Pesantren Maslakul Huda (PMH) adalah institusi pendidikan yang berorientasi pada pengembangan tafaqquh fiddin dengan berbagai ciri intrinsiknya berusaha mempersiapkan insan yang salih-akrom melalui pendekatan-pendekatan yang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pesantren Maslakul Huda didirikan oleh Kyai Mahfudh, putra dari Kyai Abdussalam, keturunan Syekh Ahmad Mutamakkin. Kyai Mahfudh bersama-sama dengan para kiai Kajen mendirikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah. Beliau juga mengajar santrinya sendiri di musholla yang akhirnya menjadi cikal bakal Pesantren Maslakul Huda (PMH).

Mahfudh lahir pada abad ke-19. Didikan ayahnya (Kiai Abdussalam) sangat mempengaruhi kepribadian dan hal ihwal beliau seperti kedisiplinan, tawadlu, nerimo, tegas (dalam hal-hal haq), birrul walidain, dan yang sangat menonjol adalah kecintaannya pada anak yatim. Dalam menuntut ilmu beliau berguru pada KH. Hasyim Asyari, KH. Ma’sum Jombang, Syekh Said Sampang Madura, Syekh Muhammad al-Baqir al-Maliki Makkah dan beliau belajar di Makkah selama 8 tahun. Pada malam Sabtu 4 Rabi’ul Awal 1364 H atau 1949 M beliau ditangkap oleh Jepang, wakila oleh Belanda dan di bawa ke rumah tahanan Ambarawa Semarang. Sehari sebelum wafat dari pihak keluarga di Kajen sempat menerima sarung dan kaos sebagai seorang yang sedang menjalani hukuman. Sampai akhir hayatmya KH. Mahfudh meninggalkan seorang istri dan enam putra putri, yakni:

  • Hasyim (Wafat thn 1949 saat perang gerilya)
  • Hj. Muzayyanah (istri KH. Mansyur Kholil alm. PP al-Anwar Lasem)
  • MA. Sahal Mahfudh (wafat. Thn 2014)
  • Nyai Hj. Salamah (istri KH. Mawardi Bugel Jepara)
  • Nyai Fadhilah (alm. Istri KH. Rodli Soleh Jakarta)
  • Nyai Khifijah (istri KH. Maddah Kencong Jember Jawa Timur)

Pesantren Maslakul Huda yang didirikan pada tahun 1910 M di atas tanah seluas 0,468 Ha. Dalam perjalanannya pesantren ini mengalami empat kali pergantian pengasuh, yakni setelah KH. Mahfudh wafat digantikan oleh adiknya. KH. Ali Mukhtar, dan sesudah itu pimpinan pesantren dipegang oleh KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh setelah pulang dari tholabul ilmi sampai tahun 2014. Tahun 2015 sampai sekarang pesantren dipimpin oleh KH Abdul Ghaffar Rozin putra KH MA Sahal Mahfuh.

Pesantren Maslakul Huda (PMH) yang didirikan prakemerdekaan mempunyai andil besar dan nyata dalam mengisi kemerdekaan ialah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Kehadiran pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin mempunyai peran aktif dalam pengembangan intelektual, di samping berusaha melakukan komunikasi dan kerjasama dengan masyarakat yang diiringi pengejawantahan tata nilai dan ajaran Islam.

Secara historis tidak diketahui pasti kapan tanggal berdirinya pesantren Maslakul Huda, namun dapat dipastikan rintisan aktifitas cikal bakal keberadaan Maslakul Huda sudah berlangsung sekitar tahun 1910-an. Pada waktu itu, Kiai Mahfudh (ayah Kiai Sahal Mahfudh) telah menginjak dewasa, beliau ingin mempunyai pesantren sendiri. Kiai Mahfudh setelah menimba ilmu dari Makkah sempat tabarukan (belajar ulang) sebentar kepada Kiai Hasyim Asy’ari, ketika beliau ngangsu kaweruh di Tebuireng, saat itu sudah diberikan kesempatan mengajar oleh Kiai Hasyim Asy’ari, sehingga ketika Kiai Mahfudh minta diri pulang untuk merintis pesantren di Kajen, beberapa santri yang dulu menjadi muridnya di Tebuireng ikut beliau dan akhirnya menjadi santri pertama di Maslakul Huda.

Pada awalnya pesantren ini belum bernama Maslakul Huda tetapi Polgarut singkatan dari nama daerah dimana pesantren ini berada yaitu, Gempol Garut. Ketika pesantren dipegang oleh kiai Sahal Mahfudh sekitar tahun 1963 dinamakan Maslakul Huda (jalannya pituduh) dengan maksud sebagai tahap lanjutan dari Mathali’ul Huda (sumbernya pituduh) pesantren yang didirikan ayah Kiai Mahfudh (Kiai Abdussalam) yang diasuh oleh Kiai Abdullah Salam (almarhum) putra Kiai Abdussalam dan sekarang diasuh oleh Kiai Nafi’ Abdillah (putra kiai Abdullah Salam). Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren ini telah mengalami pergantian pengasuh tiga kali. Tahap perintisan dipegang oleh Kiai Mahfudh Salam, yang selanjutnya ketika beliau wafat pengasuh dipegang oleh adik beliau Kiai Ali Mukhtar bin Abdussalam. Selanjutnya setelah putra Kiai Mahfudh yang bernama Kiai Sahal Mahfudh pulang dari pengembaraan mencari ilmu, pesantren diasuh oleh Kiai Sahal Mahfudh.

Pesantren Maslakul Huda berdiri diatas tanah seluas 5000 m2. Secara geografis, letak pesantren Maslakul Huda berada di wilayah desa Kajen paling barat, keberadaannya berbatasan langsung dengan Desa Ngemplak, tepatnya di arah barat Makam Syekh Ahmad Mutamakkin dan sebelah timur jalan Pati-Tayu km 15. Desa Kajen berada di wilayah Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Luas Desa Kajen sekitar 63 hektar yang hampir seluruh tanah berupa pekarangan dan tidak memiliki sawah. Tidak adanya tanah pertanian menyebabkan sebagaian besar penduduk Desa Kajen harus bertumpu pada kegiatan perdagangan, jasa angkutan, pekerja pabrik, buruh tani, dan usaha produksi.

Kajen merupakan pusat perkembangan Islam di daerah Kabupaten Pati dan banyak melahirkan ulama-ulama besar. Memang sejak abad ke-18, desa ini mempunyai historis yang istimewa, karena sebagai desa perdikan (tanah yang dibebaskan mengirim upeti kepada pemerintah pusat). Ini terjadi pada masa Kerajaan Mataram yang telah menjadi Kerajaan Kartosuro dengan rajanya Amangkurat IV (1719-1726). Desa Kajen dijadikan desa perdikan karena desa tersebut didiami Syekh Ahmad Mutamakkin yang mempunyai aliran darah biru dari Sunan Benowo dan Adipati Tuban dan bila ditarik garis lurus ke atas beliau keturunan Raden Patah (Sultan Demak).

Seirama dengan perkembangan zaman dan penerapan strategis baru, maka pada masa kepemimpinan KH. Sahal Mahfudh didirikan pesantren putri pada tahun 1972 dan Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat pada tahun 1979 namun setelah tahun 2000 berubah menjadi Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP). Karena masukan para wali santri untuk menambah Lembaga baru yang khusus mendidik santri tingkat Diniyah Ula sampai kelas 3 Tsanawiyah maka mulai 12 Pebuari 2012 PMH Putra resmi membuka PMH Li al Mubtadiin. Dan pada hari jum’at, 24 Januari 2014  KH MA Sahal Mahfudh wafat, sehingga untuk meneruskan perjuangan beliau KH Abdul Ghaffar Rozin mendirikan PMH li al Tkhassus fi Ushul al Fiqh.

Dengan demikian Pesantren Maslakul Huda terdiri dari lima Lembaga Operasional (LO) yang integral, yaitu: (1) Pesantren Maslakul Huda Putra (PMH Putra), (2) Pesantren Putri al-Badi’iyyah (PESILBA), (3) PMH Li al Mubtadi’in, (4) PMH Li al-Mubtadi’at, (5) Ma’had Aly PMH fi Ushul al-Fiqh, (6) Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) dulu Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM); BPR Artha Huda, BPRS Artamas Abadi, Masda Digital Printing, Masda Grafika, dan Masda Catering.