Oleh: Dr. Imron Rosyidi

Dulu, saya sempat berpikir, betapa sulitnya hidup dengan cara disiplin yang diterapkan oleh Kiai Sahal. Tapi sekarang, saya baru tahu bahwa itulah cara mudah untuk hidup, apalagi bagi pribadi sesibuk Kiai Sahal.

Bagi yang tidak biasa mungkin akan terasa berat. Kiai Sahal akan mulai kegiatan sehari-hari mulai pada jam dan menitnya. Beliau mengatur sesuatu hal samapai pada ukuran menit, dan bisa melakukannya dengan tepat.

Kalau merencanakan bepergian, bila ngendikan mau tindak jam 7.15 pagi, maka beliau jam 7.00 pagi sudah posisi duduk dengan baju rapi siap berangkat di kursi tengah ndalem, pas pada pada jam, menit dan detiknya baru berangkat 07.15. Inilah yang sulit awal-awal bagiku.

Urusan tamu, Kyai Sahal juga memberikan jadwal tepat dan jelas sampai pada ukuran menit, dan jangan harap akan diterima kalau tamu tidak sesuai dengan waktu yang sudah diberikan. Awal saya menganggap cara yang ini sulit tapi sekarang cara ini yang paling mudah untuk sowan kyai. Jam jelas dan menit jelas tinggal kita bisa tidak untuk menyesuaikan. Kalau jadwal kita tidak sesuai dengan jadwalnya kyai, tinggal reschedul dengan staf kyai.

Tepat hari ini kenangan kenangan itu muncul, bersama tepat hari wafatnya beliau, maafkan kyai saya tidak bisa hurmat karena hari Rumah Sakit yang panjenengan dirikan sedang akreditasi dan saya berusaha ikut membantu.

Dan penjaga waktu itu telah tiada.
( di Bus Joglo Semar, Semarang Jogjakarta?)

 

Sumber:

Facebook Dr. Imron Rosyidi. 8 Desember 2017