Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Asosiasi Pesantren NU se-Indonesia atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 pada tanggal 14-16 Juni 2017 di Hotel Menara Peninsula Jakarta.

Dalam sambutannya di acara pembukaan Bimtek, KH Abdul Ghaffar Rozin selaku Ketua Pengurus Pusat RMI NU dan sekaligus CEO LSN 2017 mengapresiasi pemerintah dan PSSI yang telah mendukung penyelenggaraan Liga Santri.

“Sebagai bagian terbesar bagi dunia pendidikan di Indonesia dan sekaligus sub-kultur bangsa ini, sudah seharunya kita berharap ke depan Liga Santri ini menjadi bagian resmi dari liga di lingkungan PSSI. Sepakbola adalah milik rakyat Indonesia, dan pesantren sebagia bagian terbesar dari bangsa ini tentu ingin berkontribusi di dalamnya,” ujar Gus Rozin.

Dalam sambutan Bimtek yang diikuti perwakilan 32 region seluruh Indonesia itu Gus Rozin menyatakan, Menurut UU  No. 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis dan cabor yang sesuai bakat dan minatnya, memperoleh pengarahan dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan, menjadi pelaku olahraga dan mengembangkan industri olahraga.

Sebagai elemen sah yang turut memperjuangkan dan mendirikan Negara ini, Gus Rozin menambahkan, pesantren tidak saja akan berhenti dengan mencetak kader bangsa yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesia-an, melainkan juga berkewajiban mempersembahkan insan-insan terbaik di semua lini kehidupan bangsa, termasuk di bidang sepak bola.

Lebih-lebih, tidak ada olahraga yang lebih populis dibanding sepakbola. Sportivitas, universalitas dan insklusifitas tidak berkontradiksi dengan ajaran pesantren, bahkan sangat in-line dengan nilai-nilai pesantren yang mengedepankan kejujuran, moderatisme, toleransi, dan kesetaraan/keadilan.

“Dengan bertemunya prinsip-prinsip kebangsaan dan kepesantrenan tersebut, kami haqqul yaqin kedepan kita hanya menghasilkan pemain bola profesional di negeri ini, melainkan lebih jauh kami akan menghasilkan pemain bola yang profesional, patriotik, yang mencintai negaranya melebihi sekat-sekat sektarianisme dan primordialisme. Inilah yang menjadi diferensiasi kami,” pungkas putra almaghfurlah KH Sahal Mahfudz tersebut.

Hadir dalam acara  tersebut antara lain Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Isnanta, Asisten Deputi Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Kementerian Pemuda dan Olahraga, Bayu Rahadiyah dan perwakilan dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Direktur Kompetisi, Efraim Ferdinand Bawole.

Seperti diketahui LSN tahun ini akan dimulai dengan kick-off Agustus 2017 dan ditutup dengan babak final pada bulan Oktober 2017. Pagelaran ini akan melibatkan seribu lebih pesantren dari Sabang hingga Merauke dan diikuti oleh 1.024 kesebalasan, 22.528 pemain, 990 pertandingan yang terdistribusi kedalam 32 region. (Ali/Fathoni)

 

Sumber : NU Online