17 Agustus merupakan hari paling bersejarah bagi bangsa Indonesia karena pada tanggal itu Indonesia mendeklarasikan diri sebagai negara yang merdeka. Kemerdekaan tersebut adalah hasil dari keringat para pahlawan pendahulu yang tidak sedikit bersumber dari kalangan santri seperti KH Mahfudh Salam dan KH Hasyim Mahfudh yang meninggal dalam perjuangan. Kiai yang biasa dipanggil Mbah Mahfudz ini merupakan pendiri Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyso Pati.

Dalam rangka itu Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda melaksanakan upacara kemerdekaan RI di depan gedung Ma’had untuk mengambil keteladanan para pahlawan dahulu (17/8) dengan diikuti oleh para pengasuh, tamu, pembantu pengasuh serta para santri Ma’had.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 19.05.46Mudir Ma’had Pesantren Maslakul Huda,  H. Wakhrodli dalam sambutannya menyinggung tentang perjuangan ulama jaman dahulu serta menyampaikan banyak hal tentang perjuangan pesantren yang dibutuhkan saat ini dalam bidang pendidikan.

“Dulu perjuangan pesantren adalah angkat senjata yang diimbangi dengan belajar. Jadi belajar menjadi hal kedua setelah angkat senjata. Sekarang ini kondisinya merdeka maka tugas terbesar pesantren adalah pada bidang pendidikan”, jelasnya.

Dalam perkembangannya dirasa pesantren berangsur-angsur mengikuti alur pendidikan umum yakni alur pendidikan yang agak keluar dari akarnya yaitu mempelajari kitabus salaf, kitab-kitab mu’tabaroh. Banyak pesantren sekarang bergerak ke arah pendidikan umum yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja sehingga tidak sedikit pesantren bergeser dari sistem yang didominasi oleh kutubut turots menjadi lembaga-lembaga formal seperti SMK, SMA dan lain sebagainya.

“Mungkin saja generasi kedepan, kita akan ketemu dengan generasi produk pesantren yang seperti itu. Sekarang saja kita sudah merasakan bahwa generasi pesantren masa lalu sudah diambil satu demi satu sehingga kita kesulitan mencari kader-kader ulama’ yang betul-betul bisa berperan sebagaimana guru kita pada masa lalu” tambahnya.

Masih menurut Wakhrodli, saat ini para santri tetap beruntung dapat menikmati bimbingan generasi pesantren masa lalu di tengah arus pendidikan yang beroerientasi pada dunia kerja. Maka diharapkan harus ada pesantren-pesantren yang secara spesifik menjaga tradisi pesantren masa lalu sehingga akan selalu muncul lagi para ulama sebagaimana ulama generasi pertama. “Jadi pesantren dapat melahirkan kembali ulama yang tidak terbawa arus globalisasi dan tuntutan lapangan kerja sehingga dapat kembali kepada hasanah keilmuan turots” tegasnya.

Mudir Ma’had Aly yang juga menjabat Dekan Fakultas Syariah IPMAFA ini juga berpesan bahwa para santri yang ada Ma’had Aly Maslakul Huda adalah kader yang dibutuhkan negara, agama dan masyarakat untuk membimbing mereka dan menyikapi secara cerdas perkembangan yang ada di tanah air sehingga apapun perubahan yang terjadi di negara ini bisa dikawal oleh tradisi dan keilmuan pesantren.